KNKT: Gangguan Sinyal Jadi Faktor Utama Tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL di Bekasi Timur

JAKARTA, AKSIKATA.COM – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengungkapkan hasil awal investigasi terkait insiden tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur pada 27 April 2026. Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, menegaskan bahwa kecelakaan tersebut bukan dipicu oleh keberadaan taksi listrik berwarna hijau seperti isu yang sempat beredar, melainkan akibat gangguan sistem persinyalan di lintas Stasiun Bekasi menuju Bekasi Timur.

“Salah satu penyebabnya sinyal di Stasiun Bekasi tidak bisa mendeteksi KA 5568A di Stasiun Bekasi Timur. Selain itu ada hambatan pencahayaan di sinyal pengulang dan masalah komunikasi turut menjadi penyebab kecelakaan tersebut terjadi,” ujar Soerjanto dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (22/5/2026).

Hasil simulasi yang dilakukan KNKT bersama sejumlah pihak menunjukkan adanya kejanggalan pada sistem persinyalan. Sinyal keluar dari Stasiun Bekasi justru menampilkan kondisi aman dengan lampu hijau, sementara sinyal pengulang memperlihatkan indikator tidak aman dan sinyal blok tetap menyala merah. Kondisi tersebut, menurut KNKT, seharusnya tidak terjadi dalam sistem operasional normal. Jika jalur berikutnya masih berstatus tidak aman, sinyal keluar seharusnya menampilkan lampu kuning sebagai tanda waspada.

Selain gangguan teknis, KNKT juga menemukan adanya hambatan visual yang dialami masinis KA Argo Bromo Anggrek. Cahaya dari permukiman warga, lampu pasar, hingga penerangan jalan disebut menyerupai warna sinyal pengulang sehingga mengganggu visibilitas. “Terdapat sumber cahaya dari rumah warga maupun lampu penerangan jalan dengan intensitas dan warna yang menyerupai aspek sinyal pengulang tersebut,” jelas Soerjanto.

Investigasi sementara turut menyoroti perbedaan perangkat komunikasi radio yang digunakan oleh kereta-kereta yang terlibat. KA 5181 menggunakan Radio Tait, KA 5568A menggunakan Radio Sepura, sementara KA 4B menggunakan Radio Lokomotif. Perbedaan perangkat ini disebut berkontribusi pada hambatan komunikasi di lapangan.

KNKT menegaskan investigasi masih berlanjut untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan yang menelan korban jiwa tersebut. Temuan awal ini diharapkan menjadi dasar perbaikan sistem persinyalan dan komunikasi agar insiden serupa tidak terulang.