Peneliti Kaji Ketahanan UMKM Mandalika untuk Wujudkan Pariwisata Berkelanjutan

LOMBOK, AKSIKATA.COM– Kawasan Destinasi Super Prioritas (DSP) Mandalika di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, terus menjadi sorotan sebagai wajah baru pariwisata Indonesia. Di balik pesatnya pembangunan infrastruktur dan meningkatnya aktivitas wisata internasional, muncul tantangan besar bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal untuk menjaga ketahanan ekonomi di tengah perubahan ekosistem pariwisata yang dinamis.

Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti dari STIE GICI, Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), dan Institut Kemandirian Nusantara melaksanakan penelitian lapangan bertajuk “Transformasi Ketahanan UMKM Wisata berbasis Livelihood Vulnerability Index (LVI) dalam Risiko Ekosistem Infrastruktur & Lingkungan di Mandalika, NTB” pada 17–20 Mei 2026. Penelitian ini dipimpin oleh Drs. Henky Hendrawan, M.Si, bersama tim yang terdiri dari Kurniawan Prambudi Utomo, SE, MM, M. Aziz Winardi, ST, MM, Yayan Hendrian, SKom, MKom, Dr. Eko Yuliawan, SE, MM, dan Miftah Faiz Ali, SKom, MM, serta didukung mahasiswa pendamping Ery Suhada dan Dewi Mega Hardi.

Selama empat hari, tim melakukan observasi lapangan, wawancara mendalam, pengumpulan data UMKM, serta Focus Group Discussion (FGD) bersama Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Lombok Tengah dan InJourney Tourism Development Corporation (ITDC). FGD dihadiri oleh Sekretaris Dinas Koperasi dan UMKM Lombok Tengah, Muh Ihsan, S.Hut, yang diwakili oleh Baiq Abidah, serta perwakilan ITDC Mandalika, Pratiwi Inggardini. Diskusi berlangsung dinamis membahas kondisi aktual UMKM lokal di tengah transformasi Mandalika sebagai kawasan wisata kelas dunia.

Ketua tim peneliti, Drs. Henky Hendrawan, M.Si, menilai bahwa pembangunan kawasan wisata modern membawa dua sisi yang berjalan beriringan. Di satu sisi, Mandalika membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui meningkatnya kunjungan wisatawan, event internasional, dan pertumbuhan ekonomi kreatif. Namun di sisi lain, perubahan tersebut juga memunculkan tantangan bagi pelaku usaha kecil lokal yang masih rentan menghadapi percepatan perubahan pasar.

“Pembangunan kawasan wisata tidak cukup hanya diukur dari megahnya infrastruktur atau tingginya jumlah wisatawan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana masyarakat lokal mampu bertahan, tumbuh, dan menjadi bagian utama dari rantai ekonomi pariwisata itu sendiri,” ujar Henky Hendrawan.

Penelitian ini menggunakan pendekatan Livelihood Vulnerability Index (LVI) untuk memetakan tingkat kerentanan dan kapasitas adaptasi UMKM wisata terhadap berbagai risiko di kawasan Mandalika. Pendekatan tersebut menilai aspek sosial ekonomi masyarakat, akses terhadap infrastruktur, ketahanan lingkungan, kapasitas kelembagaan, strategi penghidupan, hingga kesiapan pelaku usaha menghadapi tekanan ekonomi dan perubahan pasar.

Dari hasil observasi awal, tim menemukan bahwa sebagian besar UMKM lokal mulai merasakan manfaat langsung dari pertumbuhan kawasan Mandalika. Peningkatan aktivitas wisata berdampak pada naiknya permintaan produk kuliner, suvenir, jasa wisata, hingga produk ekonomi kreatif. Namun tantangan seperti ketergantungan pada event wisata, fluktuasi pendapatan, keterbatasan akses digital, dan persaingan dengan pelaku usaha bermodal besar masih menjadi kendala utama.

Selain faktor ekonomi, isu lingkungan dan perubahan tata ruang kawasan juga menjadi perhatian penting. Perubahan ekosistem wisata dinilai dapat memengaruhi pola usaha masyarakat, termasuk akses lokasi, perilaku wisatawan, dan kebutuhan adaptasi terhadap standar layanan modern. Tim peneliti menegaskan bahwa penguatan UMKM lokal harus menjadi bagian integral dari pembangunan Mandalika agar manfaat ekonomi dapat dirasakan masyarakat secara berkelanjutan.

Melalui penelitian ini, tim berharap dapat menghasilkan rekomendasi strategis bagi pemerintah daerah, pengelola kawasan, dan pemangku kepentingan terkait dalam membangun model pengembangan UMKM wisata yang lebih resilien, inklusif, adaptif, dan berkelanjutan.

“Penelitian ini menjadi kontribusi akademik untuk mendorong pembangunan pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi dan investasi, tetapi juga pada penguatan ketahanan sosial ekonomi masyarakat lokal sebagai aktor utama dalam ekosistem pariwisata Mandalika,” tutup Henky Hendrawan.