Marsinah, Tokoh Buruh yang Tewas Dianiaya Dianugerahi Gelar Pahlawan

JAKARTA, AKSIKATA.COM – Marsinah resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2025.Dalam upacara kenegaraan yang berlangsung khidmat di Istana Negara, Jakarta, Presiden Prabowo Subianto menyerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada ahli waris Marsinah.

Penetapan ini tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 116/TK/Tahun 2025, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan. Marsinah diakui atas perjuangannya di bidang Perjuangan Sosial dan Kemanusiaan, menjadikan dirinya sebagai simbol keberanian perempuan dalam menghadapi represi dan memperjuangkan hak-hak pekerja.

Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi atas penetapan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional. “Marsinah adalah simbol perjuangan hak-hak pekerja. Ia menunjukkan bahwa keberanian dan keteguhan hati perempuan bisa menjadi kekuatan besar dalam memperjuangkan keadilan,” ujar Khofifah dalam pernyataannya.

Marsinah, buruh perempuan asal Nganjuk, Jawa Timur, dikenal aktif dalam memperjuangkan hak-hak pekerja di era Orde Baru. Ia menjadi korban penculikan dan pembunuhan setelah memimpin aksi protes terkait upah minimum pada Mei 1993. Tragedi kematiannya yang misterius dan penuh luka menjadi titik balik dalam gerakan buruh Indonesia, dan selama lebih dari tiga dekade, namanya terus diperjuangkan agar diakui sebagai pahlawan oleh negara.

Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya menyatakan, “Penghargaan ini adalah bentuk pengakuan negara atas keberanian luar biasa Marsinah dalam memperjuangkan keadilan sosial. Kita harus belajar dari semangatnya untuk terus membela hak-hak rakyat kecil dan memperkuat demokrasi.” Kutipan ini menjadi penegasan bahwa Marsinah bukan hanya dikenang sebagai korban, tetapi sebagai pejuang yang kini diakui secara resmi oleh negara.

Penetapan Marsinah sebagai Pahlawan Nasional juga menjadi momen reflektif bagi gerakan buruh dan masyarakat sipil. Ia kini berdiri sejajar dengan tokoh-tokoh besar bangsa, bukan karena jabatan atau kekuasaan, tetapi karena keberaniannya menolak tunduk pada ketidakadilan. Dalam narasi sejarah Indonesia, Marsinah telah menjadi suara yang diakui, dihormati, dan diwariskan sebagai inspirasi lintas generasi.