Ngaglik Raih Juara Pertama Festival Upacara Adat Sleman 2026 dengan Tradisi Wiwitan

dok: istimewa

SLEMAN, AKSIKATA.COM – Upaya pelestarian warisan budaya takbenda di tingkat akar rumput kembali menunjukkan hasil membanggakan. Kontingen Padukuhan Penen yang mewakili Kapanewon Ngaglik berhasil menyabet Juara Pertama dalam Festival Upacara Adat Kabupaten Sleman Tahun 2026. Ajang bergengsi ini berlangsung di Gedung Serbaguna Kabupaten Sleman pada 23–24 Mei 2026 dan diikuti oleh 17 kapanewon se-Kabupaten Sleman dengan tujuan melestarikan warisan budaya takbenda sekaligus memperkenalkan nilai filosofis tradisi kepada generasi muda.

Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kebudayaan menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar seremonial, melainkan wadah untuk menjaga keberlangsungan tradisi yang masih hidup di masyarakat. Ajang ini menjadi bukti nyata komitmen masyarakat Sleman dalam melestarikan budaya agraris di tengah arus modernisasi.

Dalam penampilan yang memukau, kontingen Ngaglik menampilkan visualisasi Upacara Adat Tradisi Wiwitan. Pertunjukan yang sarat makna agraris ini berhasil mengantongi skor tertinggi, yakni 784 poin, sehingga menempatkan mereka di podium utama.

Dewan juri yang terdiri atas Untung Waluyo, Endang Widuri, dan Faisal Nur Singgih menekankan bahwa penilaian tidak hanya berfokus pada aspek teatrikal, melainkan pada kesesuaian tata urutan upacara adat yang berakar kuat di masyarakat.

Faisal Nur Singgih, mewakili dewan juri, menyampaikan bahwa upacara adat harus memiliki lokus dan fokus yang jelas, sesuai kultur wilayah masing-masing, serta mengandung nilai pendidikan dan transfer budaya. “Seluruh unsur pertunjukan, mulai dari blocking panggung, kesinambungan antaradegan, tata busana, iringan musik, hingga kru properti merupakan satu rangkaian yang utuh,” ujarnya.

Sementara itu, Endang Widuri mengingatkan agar kontingen tidak terjebak pada aspek kosmetik panggung semata, melainkan tetap menjaga detail artistik yang selaras dengan nuansa sakralitas adat. Keberhasilan mempertahankan keaslian ritus menjadi kunci kemenangan Ngaglik.

Koordinator Kontingen Ngaglik, Winardi, mengungkapkan rasa syukur atas pencapaian ini. “Tradisi Wiwitan adalah budaya adiluhung warisan nenek moyang yang masih konsisten kami laksanakan secara komunal di Padukuhan Penen setiap kali menjelang musim panen padi. Semoga generasi seterusnya ikut tergerak menjaga budaya ini, karena merupakan aset padukuhan yang tidak berwujud namun bernilai tinggi,” tuturnya.

Festival tahun ini juga mencatat persaingan ketat di papan atas. Juara II diraih oleh kontingen Kapanewon Berbah dengan Upacara Adat Tirto Malaikatan yang meraih 753 poin. Juara III ditempati Kapanewon Kalasan dengan Upacara Adat Merti Sendang Sempol yang mengumpulkan 743 poin. Adapun Juara Harapan I diraih Kapanewon Cangkringan dengan Tradisi Wiwitan (732 poin), dan Juara Harapan II diraih Kapanewon Minggir dengan Upacara Adat Merti Umbul Pengantin (730 poin).

Festival Upacara Adat Kabupaten Sleman 2026 menjadi bukti nyata bahwa tradisi lokal masih memiliki daya hidup yang kuat di tengah arus modernisasi. Keberhasilan Ngaglik bukan hanya kemenangan simbolis, tetapi juga penegasan bahwa budaya agraris yang diwariskan leluhur tetap relevan dan layak dirawat sebagai identitas kolektif masyarakat.