JAKARTA, AKSIKATA.COM – Indonesia tengah menghadapi ancaman baru dari penyakit zoonotik yang dikenal sebagai monkey malaria atau malaria knowlesi. Hingga April 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Jaya melaporkan sedikitnya 30 kasus penularan malaria jenis ini, sementara di Malaysia tercatat 357 kasus dengan satu kematian.
Sementara itu, Malaysia mencatat 357 kasus dengan satu kematian sepanjang 2026, terutama di wilayah Sabah. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran karena sebelumnya Malaysia berhasil menekan malaria yang ditularkan antar-manusia, namun kini menghadapi ancaman baru dari jenis zoonotik.
Monkey malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium knowlesi yang secara alami hidup pada monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dan beruk. Penularan terjadi melalui gigitan nyamuk Anopheles kelompok leucosphyrus yang sebelumnya menggigit monyet terinfeksi. Berbeda dengan malaria manusia yang umum dikenal, penyakit ini tidak menular langsung antar-manusia.
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), peningkatan kasus berkaitan dengan deforestasi dan alih fungsi hutan yang membuat manusia, monyet, dan nyamuk berbagi ruang hidup yang sama.
Kondisi ini meningkatkan risiko penularan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar hutan atau pekerja kebun, petani, penebang kayu, dan pencari rotan. Aktivitas manusia yang semakin dekat dengan habitat monyet dan nyamuk itu lah yang meningkatkan risiko penularan
Gejala monkey malaria mirip dengan malaria biasa, seperti demam tinggi, menggigil, sakit kepala, nyeri otot, mual, muntah, hingga diare. Namun, parasit Plasmodium knowlesi memiliki siklus hidup yang cepat sehingga jumlah parasit dalam tubuh bisa meningkat drastis dalam waktu singkat.Dalam kasus berat, pasien dapat mengalami komplikasi serius seperti anemia berat, gagal ginjal, gangguan pernapasan, hingga penurunan kesadaran. Masa inkubasi parasit ini berkisar 10–15 hari setelah gigitan nyamuk.
Para ahli menekankan pentingnya deteksi dini dan pencegahan gigitan nyamuk sebagai langkah utama. Masyarakat diimbau menggunakan losion antinyamuk, mengenakan pakaian tertutup, serta tidur dengan kelambu di daerah endemis. Pemeriksaan medis segera diperlukan jika mengalami demam setelah beraktivitas di kawasan hutan.


