JAKARTA-AKSIKATA,COM- Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dengan serius melakukan persiapan untuk menarik dana sebesar Rp75 triliun dari total Rp276 triliun yang beberapa waktu dialokasikan di sistem perbankan.
Dengan maksud ingin sektor riil bergulir dengan cepat, akan tetapi tidak tercapai juga.
Sejumlah dana tersebut telah ditarik, kemudian akan dibelanjakan kembali untuk support pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
“Sekarang di bank, jumlahnya ada Rp201 triliun. Yang Rp75 triliun kemarin, kita tarik. Kemudian kita belanjakan lagi. Jadi, tetap masuk ke sistem. Namun, enggak langsung berbentuk uang di bank. Karena, uangnya masuk ke sistem lagi,” kata Menkeu Purbaya di Jakarta, dikutip Kamis (1/1/2026).
Untuk menginformasikan kembali, Menkeu Purbaya menempatkan dana Rp276 triliun, berasal dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang tersimpan di Bank Indonesia (BI).
Kemudian, duit itu digelontorkan ke 5 bank pelat merah atau Himbara (Himpunan Bank Milik Negara), dan satu Bank Pembangunan Daerah (BPD) dalam hal ini Bank Jakarta.
Untuk detilnya, masing-masing Bank Mandiri, BRI, dan BNI diguyur Rp80 triliun, BTN Rp25 triliun, BSI Rp10 triliun, serta Bank Jakarta Rp1 triliun.
Menkeu Purbaya mengungkapkan bahwa dana Rp75 triliun yang ditarik itu, diperuntukkan buat belanja negara dengan tujuan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
Dia mengakui bahwa kebijakan penempatan dana tersebut ke perbankan pelat merah, belum berjalan optimal.
Atas dasar data Bank Indonesia (BI) per Oktober 2025, kredit perbankan tercatat 7,36 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Kredit perbankan yang belum optimal, dipengaruhi kebijakan pemerintah dan BI yang belum sepenuhnya selaras.
“Injeksi uang yang kita taruh di sistem perbankan itu nggak seoptimal yang saya duga sebelumnya. Harusnya ekonomi lari lebih cepat karena ada sedikit ketidaksinkronan kebijakan antara kami dengan bank sentral yang sekarang sudah dibereskan,” ucap Menkeu Purbaya.
Akan tetapi, Menkeu Purbaya menegaskan, koordinasi pemerintah dengan bank sentral, sekarang sudah diperbaiki.
Dalam dua minggu terakhir, BI mulai mendukung kebijakan pemerintah sehingga likuiditas di sistem perekonomian bakal berangsur longgar.
“Dua minggu terakhir ini, bank sentral (BI) sudah mendukung kebijakan kami. Artinya uang akan semakin banyak di sistem perekonomian, jadi Anda enggak usah takut ekonomi kita akan melambat,” ujar Menkeu Purbaya.
“Sekarang sudah dipercepat dan dirapikan, seharusnya sih ke depan enggak ada masalah. Yang penting kita lihat ke depan seperti apa, dan kita lihat dua minggu terakhir sudah amat baik sekali, seharusnya sih enggak ada halangan lagi,” kata Menkeu Purbaya kembali.
Dengan adanya perbaikan koordinasi kebijakan itu, Purbaya yakin pertumbuhan ekonomi nasional tahun depan bisa mencapai 6 persen, lebih tinggi dari perkiraan APBN sebesar 5,4 persen.
“Jadi sekarang bisa ngomong dengan lebih yakin bahwa tahun depan (tumbuh) 6 persen, walaupun di APBN 5,4 (persen) ya, saya akan paksa dorong ke 6 persen, dan probability itu terjadi semakin terbuka lebar karena kami semakin sinkron dengan bank sentral,” tutur Purbaya. (dps)
Foto : Kementerian Keuangan


