Ini Alasan Ikan Sapu-sapu Harus Dimusnahkan dari Waduk Jakarta

JAKARTA , AKSIKATA.COM – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama warga melakukan operasi besar-besaran untuk memburu dan memusnahkan ikan sapu-sapu yang populasinya meningkat pesat di sungai-sungai ibu kota. Perburuan ini berlangsung sejak awal April 2026, dengan melibatkan ratusan personel gabungan dari Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (KPKP) serta Gulkarmat Jakarta Pusat.

Kronologis dimulai pada Sabtu, 11 April 2026, ketika petugas menggelar operasi penangkapan di Kali Cideng, tepat di depan Plaza Indonesia, Menteng. Sebanyak 41 ekor ikan sapu-sapu berukuran besar berhasil ditangkap. Operasi serupa kemudian dilanjutkan di kawasan Setu Babakan, Jakarta Selatan, pada Jumat, 17 April 2026, dengan hasil puluhan ekor ikan sapu-sapu kembali diamankan.

Setelah ditangkap, ikan-ikan tersebut dimusnahkan dengan cara dibelah dua lalu dikubur di lokasi yang telah ditentukan. Metode ini dilakukan karena ikan sapu-sapu tidak layak dikonsumsi manusia akibat kandungan logam berat dari polutan dasar perairan.

Langkah ini diambil sebagai respon atas dominasi spesies invasif tersebut yang dinilai mulai mengancam keberlangsungan populasi ikan lokal serta merusak struktur dinding waduk akibat kebiasaan mereka membuat lubang di tepian air.

keberadaan ikan sapu-sapu yang berlebihan menyebabkan persaingan sumber makanan yang tidak sehat bagi ikan konsumsi seperti nila dan mujair.

Latar belakang perburuan ini berawal dari meningkatnya populasi ikan sapu-sapu di sungai-sungai Jakarta. Ikan ini dikenal sebagai spesies invasif yang tidak memiliki predator alami. Mereka membuat lubang sarang di tepi sungai yang menyebabkan erosi dan memperparah risiko banjir.

Selain itu, keberadaan ikan sapu-sapu mengganggu ekosistem perairan dengan memangsa telur ikan lokal dan merusak struktur sungai. Pakar dari IPB menyebutkan bahwa pengendalian populasi harus dilakukan secara terpadu, termasuk pencegahan penyebaran, penangkapan berbasis komunitas, dan kontrol biologis dengan predator alami.