JAKARTA AKSIKATA.COM — Museum Fatahillah atau yang dikenal sebagai Museum Sejarah Jakarta merupakan salah satu bangunan bersejarah terpenting di kawasan Kota Tua. Berdiri menghadap Lapangan Fatahillah, museum ini menyimpan jejak panjang perjalanan Jakarta sejak masa Batavia hingga berkembang menjadi ibu kota negara seperti sekarang.
Bangunan ini awalnya merupakan Balai Kota Batavia (Stadhuis van Batavia) yang dibangun oleh pemerintah VOC pada tahun 1710 pada masa kepemimpinan Gubernur Jenderal Joan van Hoorn. Gedung bergaya neoklasik khas Belanda ini dulunya berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan administrasi kolonial, tempat berbagai keputusan penting diambil.
Salah satu bagian paling bersejarah di Museum Fatahillah adalah ruang penjara bawah tanah yang terletak di bagian bawah bangunan utama. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, ruang ini digunakan untuk menahan para tahanan, termasuk tokoh-tokoh yang dianggap melawan kekuasaan kolonial.
Kondisi penjara bawah tanah pada masa itu sangat memprihatinkan. Ruangan yang sempit, minim pencahayaan, serta ventilasi udara yang terbatas membuat para tahanan harus bertahan dalam kondisi yang tidak manusiawi. Keberadaan ruang penjara ini menjadi bukti nyata sistem hukuman dan penindasan pada masa kolonial, sekaligus menjadi pengingat pentingnya nilai kemanusiaan dan keadilan di masa kini.
Selain ruang penjara bawah tanah, Museum Fatahillah juga memiliki koleksi meriam yang berada di area luar museum, tepatnya di halaman depan kawasan Kota Tua. Meriam-meriam tersebut merupakan peninggalan masa kolonial yang dahulu digunakan sebagai alat pertahanan sekaligus simbol kekuatan militer. Tercatat terdapat sekitar 13 meriam yang dipamerkan di area Museum Fatahillah.
Salah satu meriam yang paling terkenal adalah Meriam Si Jagur, yang memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat bagi masyarakat. Meriam ini tidak hanya menjadi artefak sejarah, tetapi juga sarana edukasi untuk mengenalkan teknologi persenjataan serta strategi pertahanan pada masa lalu.
Secara historis, Meriam Si Jagur dibuat oleh orang Portugis bernama Manoel Tavares Baccaro di Macau, China. Meriam tersebut kemudian dibawa oleh Portugis ke Melaka pada abad ke-16. Setelah Belanda merebut Melaka pada tahun 1641, meriam ini dipindahkan ke Batavia dan awalnya ditempatkan di Benteng Batavia untuk menjaga pelabuhan.
Seiring waktu, Meriam Si Jagur mengalami beberapa kali pemindahan lokasi. Setelah Kasteel Batavia dihancurkan oleh Daendels pada tahun 1809, meriam ini dipindahkan ke Museum Oud Batavia (kini Museum Wayang). Pada masa Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, Meriam Si Jagur akhirnya dipindahkan dan ditempatkan di halaman utara Museum Fatahillah, dengan moncong meriam mengarah ke Pasar Ikan.
Setelah Indonesia merdeka, bangunan Museum Fatahillah sempat mengalami beberapa perubahan fungsi hingga akhirnya pada 30 Maret 1974 resmi ditetapkan sebagai Museum Sejarah Jakarta. Museum ini kini menyimpan lebih dari 20.000 koleksi bersejarah, mulai dari meriam, mebel antik abad ke-18, peta kuno, prasasti, hingga koleksi etnografi.
Menurut Tasya, salah satu pemandu wisata yang sedang menjalankan PKL di Museum Fatahillah memiliki peran penting bagi generasi muda. “Menurut aku sih penting ya, karena di sini tuh banyak banget koleksi peninggalan dari zaman Batavia sampai akhirnya jadi Jakarta. Menurut saya itu penting banget buat generasi sekarang,” ujarnya.
Selain sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah, Museum Fatahillah juga aktif menjadi lokasi berbagai kegiatan budaya seperti pameran seni, pertunjukan, dan festival sejarah. Dengan revitalisasi kawasan Kota Tua, museum ini semakin ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Sebagai salah satu bangunan tertua di Jakarta, Museum Fatahillah tidak hanya menjadi destinasi wisata edukatif, tetapi juga simbol penting untuk memahami sejarah, menghargai perjuangan masa lalu, serta menanamkan nilai kemanusiaan dan keadilan bagi generasi masa depan.
Penulis: Dafa Dhiya’ulhaq, dkk (mahasiswa UBSI Kaliabang)



