Kisah Mangkok Merah dalam Tradisi Suku Dayak

Mangkok merah dalam tradisi Suku Dayak. (foto: kominfo)

JAKARTA, AKSIKATA.COM – Salah satu yang paling fenomenal dalam tradisi Suku Dayak adalah ritual Mangkok Merah atau Mangkok Jaranang.. Mangkok ini berfungsi sebagai alat komunikasi antar sesama rumpun Dayak serta sebagai penghubung dengan roh nenek moyang.

Mangkok Merah dijadikan sebagai alat untuk memohon bala bantuan guna melawan musuh. Seorang tokoh Dayak yang menjadi salah satu narasumber dalam buku In The Time of Madness: Indonesia on the Edge of Chaos atau Zaman Edan karya Richard Lloyd Parry (2008:66) mengatakan: “Mangkuk merah digunakan untuk memanggil orang-orang. Itu adalah simbol komunikasi yang digunakan selama masa darurat. Ketika seorang membawanya dari satu suku ke suku lain, itu berarti: Datang dan bantu kami.”

Suku Dayak percaya melalui Mangkok Merah roh leluhur akan membantu mereka dari serangan luar. Mangkok Merah mempunyai kekuatan untuk mengajak semua orang Dayak terlibat dalam peperangan. Benda ini keluar kalau akan terjadi hal-hal besar yang menakutkan, gawat dan jiwa terancam.

Ritual Suku Dayak (foto:suarakarya)

Mangkok Merah saat itu juga dikeluarkan sebagai bentuk pertahanan serta menjaga keselamatan dari serangan musuh. Jika Mangkok Merah sudah diedarkan maka mampu mempengaruhi massa untuk melakukan gerakan.

Penggunaan Mangkok Merah tak bisa sembarangan. Ada konsekuensi serius yang harus ditanggung bila Mangkok Merah sudah digunakan. Sebab korban jiwa dalam jumlah besar dipastikan akan berjatuhan jika tradisi Mangkok Merah dijalankan.

Dalam adat Mangkok Merah, prosesinya meliputi musyawarah sampai pemberangkatan bala yang dilaksanakan secara relijius. Selain itu, adat Mangkok Merah juga bersifat memaksa atau mengikat. Maksudnya pihak ahli waris yang dituju atau yang sudah menerima berita mangkok merah wajib ikut.

Disebut mangkok merah karena mangkok tersebut berisi darah merah, yang mengandung arti agar masyarakat membela dan mempertahankan suku sampai titik darah penghabisan.

Mngkok ini disebut Mangkok Merah, karena di dalamnya dituangkan cairan merah yang ada pada getah jaranang, namuan seiring perkembangan jaman, getah jaranang itu dapat diganti dengan cat merah.

Jaranang adalah sejenis tanaman akar yang mempunyai getah berwarna merah dan digunakan sebagai pewarna sebelum masyarakat Dayak mengenal cat. Akar jaranang yang berwarna merah dioleskan pada dasar mangkuk bagian dalam. Merah diidentikkan dengan darah, karena itu darah harus digunakan sebagai salah satu isi ataupun sesaji dalam ritual Mangkok Merah.

Mangkok ini juga diisi dengan bulu burung agar beritanya dapat dibawa kepada seluruh anggota suku secepat burung terbang dan tidak perlu khawatir panas ataupun hujan karena telah dilengkapi dengan daun lontar yang akan melindungi pembawanya.

Kelengkapan mangkok merah adalah dua helai bulu burung, selembar daun lontar, sepotong kayu yang dibakar ujungnya, daun-daun kematian dan potongan kayu kecil.

Panglima Adat membawa Mangkuk Merah ke panyugu (tempat suci yang dianggap keramat) pada saat matahari terbenam. Di sana, ia meminta petunjuk dewa. Diyakini bahwa roh suci akan menjawab melalui tanda-tanda alam yang kemudian diterjemahkan oleh panglima apakah Mangkuk Merah sudah saatnya diedarkan atau belum. Jika dianggap layak, tubuh panglima akan dirasuki oleh roh dewa.

Jika Panglima Adat pulang ke kampung dengan teriakan histeris (tariu), maka Mangkok Merah itu dapat segera diedarkan. Mendengar teriakan histeris itu, masyarakat akan segera berkumpul di lapangan dengan memegang mandau, perisai dan mereka siap untuk perang melawan musuh. Upacara mengedarkan Mangkuk Merah berlangsung di seluruh wilayah yang bisa dijangkau hingga dianggap cukup untuk menghadapi musuh.

Panglima Adat kemudian menularkan roh dewa kepada semua penduduk kemudian mengutus kurir untuk mengantarkan mangkuk merah ke desa lain. Mangkok Merah yang sudah diritualkan harus segera dijalankan dan disebarluaskan tanpa banyak tanya. Jika ada orang yang menghalangi jalannya Mangkok Merah akan mendapat hukuman atau sanksi adat.

Menurut kepercayaan masyarakat Dayak, orang yang memegang Mangkok Merah yang asli adalah setengah manusia dan setengah roh halus (setengah dewa). Sewaktu-waktu ketika ada konflik besar yang mengancam suku Dayak maka Mangkok Merah yang asli itu akan datang secara tiba-tiba melalui ritual adat.

Melaksanakan ritual Mangkok Merah bagi kepercayaan suku Dayak tidaklah mudah karena didalamnya terdapat kepercayaan bahwa ritual yang dilaksanakan akan meminta nyawa manusia dan menimbulkan korban. Orang yang terpengaruh oleh Mangkok Merah akan membunuh karena mereka dalam keadaan trance.

John MacDougall dalam tulisan Kisah Mangkok Merah di Pedalaman KalBar menjelaskan, pelaksanaan ritual Mangkok Merah selalu menggunakan sesaji.
Sesaji yang digunakan, yakni:

1.Umbi Jerangau (acorus calamus) yang melambangkan keberanian.
2.Beras kuning dan bulu ayam. Bulu ayam memiliki arti terbang atau dapat segera disebarkan secepat kilat. Sementara beras kuning merupakan simbol dari keselamatan dan untuk mengusir roh jahat agar tidak mengganggu.
3.Lampu obor yang terbuat dari bambu sebagai penerangan.
4.Daun rumbia untuk melindungi Mangkok Merah yang telah diberi sesaji agar tidak terkena hujan.
5.Tali simpul dari kulit kapuak yang berasal dari pohon tie’ melambangkan persatuan. Biasanya tali ini diikatkan pada Mangkok.

4 Comments on “Kisah Mangkok Merah dalam Tradisi Suku Dayak”

  1. The web content of this blog site is merely extraordinary! Reading this short article was important for me as it supplied valuable insights and comprehensive information on the subject. I was excited by the high quality of the writing and the level of study involved. The writer did an impressive job in presenting the info plainly and engagingly. Congratulations to the author for developing such a well-written and informative blog. I can’t wait to find out more short articles right here!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *