Empati yang Tesseract

Tesseract dalam Marvel Cinematic Universe

oleh: Muhammad Irfan, M.I.kom )*

Masih ingat film Avengers yang membahas “Tesseract” sebuah artifak fiksi karangan Marvel. Satu dari 6 infinity Stones yang bernama “Space Stone” sengaja di kumpulkan oleh Thanos, tokoh antagonis yang memakan banyak korban.  Kata itu tiba-tiba terlafal cepat-cepat, ketika kami ingin menggunakan kata “terserak”.

Jika ditelusuri di KBBI kata tersebut mempunyai arti tersebar/terpencar atau “ambyar”. Kebetulan ketika tulisan ini dibuat bertepatan dengan meninggalnya musisi lokal Indonesia Didi Kempot “The Lord of Broken Heart” yang juga pencipta lagu dan mempopulerkan kata ambyar. Seorang yang berdedikasi dalam dunia musik yang bertahan hingga akhir hayatnya.

Kenapa “empati” harus dibahas lagi. Secara umum kita paham bahwa empati itu keadaan mental untuk bisa membayangkan, merasakan, dan memahami perasaan orang lain. Tapi fenomena yang terjadi hari ini, bahwa mungkin empati sudah menjadi barang langka, terserak atau musnah perlahan. Paham arti dalam bahasa tapi belum tentu memahami dalam rasa/batin/hati nurani.

Kini semua media online mencatat sejarah, ketika Covid-19 ini merajalela dan mengancam dengan ketakutan bukan dengan bahaya. Maka terlihatlah berbagai model manusia. Mulai dari manusia penjual masker yang mahal, manusia yang mengusir tenaga medis dari induk semangnya atau jenazah korban Covid-19 yang bukan ditolak bumi, tapi ditolak warga/kelompok manusia.

Hingga kini di tengah wabah itu, kita terancam dengan PHK dan kelaparan, muncullah manusia-manusia setengah setan yang mulai menghina Agama, Tuhan dan Nabi. Seharusnya di saat kita terpuruk dan terjepit. Di saat kodrat manusia memiliki keterbatasan dalam cobaan, harusnya kita kembali pada agama, mendekat kepada sang Khaliq.
Sungguh ironis fenomena kali ini, menusuk dada hingga kepala. Bersedih namun tak sanggup menangis, menangis tapi tak keluar air mata. Itulah keadaan hari ini.

Dalam Era Media Sosial, beberapa fenomena tersebut muncul sebagai determinasi dari teknologi yang menggerus sendi-sendi konstruksi sosial. Pendekatan ilmu komunikasi mencoba membaca fenomena yang sudah diramalkan sebelumnya oleh Marshall McLuhan dalam teori determinism. Ketidakberdayaan manusia untuk mengendalikan teknologi, menyebabkan teknologi mengambil alih seluruh keputusan yang harusnya dimiliki oleh manusia.

Manusia seakan-akan sudah seperti robot, yang sifat bawaan dari sebuah robot adalah tidak adanya pertimbangan hati nurani atau empati. Bisa jadi arus deras paparan media sosial tidak sanggup dibendung oleh seorang individu, sehingga bandul nurani sudah bergeser terlalu jauh. Garis Tegas Empati dan Antipati kian hari menjadi samar keabu-abuan.

Saat ini beberapa orang berusaha mencari Empati yang terserak dan kita sedang mengumpulkan satu persatu pecahannya dalam doa dan ikhtiar. Jangan sampai ia menjadi “artifak” bahkan menjadi barang “fiktif” atau empati menjadi sebuah “artifak fiktif” dimasa depan….

*) Staf Dosen ilmu komunikasi UBSI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *




Enter Captcha Here :