Santap Bersama Kuah Beulangong di Khanduri Adat Laot

Tak lengkap rasanya gelaran Kanduri Adat Laot tanpa "kuah beulangong" (gulai kari) dari hewan kerbau yang disembelih. (foto-foto: Kuncoro Widyo Rumpoko)

JAKARTA, AKSIKATA.COM – Khanduri Adat Laot (kenduri adat laut) bagi masyarakat nelayan di pesisir laut Aceh, adalah ungkapan  rasa syukur para nelayan kepada sang pencipta dan juga lingkungan sekitarnya dalam menjaga kelestarian lingkungan setempat.

‌Khanduri Adat Laot merupakan upacara menjelang musim timur atau ketika musim barat akan berakhir, yang rutin dilaksanakan setiap tahunnya oleh para ratusan nelayan setempat secara sederhana, disetiap desa pantai yang merupakan wilayah Panglima Laot, baik di lhok (teluk) maupun di kabupaten, dengan menyantuni anak yatim dan makan bersama di pinggir pantai.

Tak lengkap rasanya gelaran Kanduri Adat Laot tanpa  “kuah beulangong” (gulai kari) dari hewan kerbau yang disembelih. Kerbau ini berasal  dari uang sumbangan para nelayan dan berbagai perusahaan yang ada d isekitar warga setempat. Setelah dimasak, kuah beulangong dimakan secara bersama-sama sebagai wujud kebersamaan.

Demikian sepintas cerita masyarakat nelayan pesisir laut saat melaksanakan tradisi Khanduri Adat Laot Lhok Krueng Raba di pemukiman Lhokga, Aceh Besar, beberapa waktu lalu, seperti disaksikan oelh fotografer AKSI KATA, Kuncoro Widyo Rumpoko.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *