212 Undercover, Kisah Seorang Habib yang Ingin Indonesia Tetap Menjadi Satu

Foto-foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

JAKARTA, AKSIKATA.COM – Kita tentu masih ingat peristiwa Aksi 212 ketika lebih dari satu juta umat Muslim berkumpul di Monas Jakarta pada tanggal 22 Desember 2016 silam. Aksi yang menentang dan menuntut Gubernur Jakarta waktu itu Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang dituduh menistakan agama Islam dengan ucapannya terkait surat Almaidah ayat 51.

Pada waktu itu tanpa disangka-sangka, di tengah protes yang berlangsung Presiden Joko Widodo datang menemui umat di tengah guyuran hujan deras dan ikut salat bersama. Sebelumnya tidak ada yang mengira Jokowi akan datang, sebab pada aksi-aksi sebelumnya dia tidak pernah muncul. Justru massa menganggap Jokowi “membela” Ahok mengingat kedekatan mereka sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI.

Tidak hanya Jokowi, hadir dalam acara itu juga Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Kordinator Politik Hukum dan Kemanan Wiranto, Menteri Kordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Sekretaris Negara Pramono Anung, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Kemunculan Jokowi di tengah aksi masa ini tentu melegakan sekaligus mengundang tanya. Siapa yang membuat dia akhirnya datang menemui massa? Adalah Sayid Abdul Qadir Thoha Ba’aqil atau biasa dipanggil Habib, seorang tokoh masyarakat di Kalimantan Selatan. Habib yang khawatir akan terjadi kerusuhan bila negara tidak hadir dalam aksi massa tersebut.

Menurutnya, jika aksi besar seperti 212 tidak segera di redam maka akan merugikan negara Indonesia. Oleh karena itu, negara harus hadir untuk meredam kemarahan umat Islam tersebut.

Negara artinya Presiden. Presiden harus hadir untuk menenangkan massa. Gagasan itu disampaikan kepada sahabatnya seorang pejabat intelijen setempat untuk diteruskan ke istana. Entah kebetulan atau tidak, pada akhirnya Presiden Jokowi memang hadir dan memberikan pidato. Inilah puncak sekaligus anti klimaks dari aksi 212 yang berakhir damai.

Menurut Sayyid Abdul, apapun bentuk masalahnya jika diselesaikan dengan cara dialog dan silaturrahmi akan selesai. Dan sebaliknya, jika negara mengambil jarak jauh, maka sekecil apapun masalahnya akan menjadi besar. “Alhamdulillah, setelah kehadiran presiden lambat laun masalah menjadi terurai hingga akhirnya selesai,” ujarnya.

Itulah sekelumit cerita yang diungkap dalam buku 212 Undercover yang diluncurkan hari ini di Gedung Juang 45 Menteng Jakarta. Buku setebal 122 halaman ini ditulis oleh dua wartawan senior Sri Wulandari dan Evieta Fadjar Pusporini.

“Saya senang karena ide yang saya lontarkan kepada Pak Hotman Sagala bisa terlaksana. Ini sungguh keajaiban. Kekuasaan Tuhan yang Maha Agung. Kehadiran simbol negara di tengah-tengah aksi pendemo pada saat itu, jelas dapat mempersatukan semua lini dan perbedaan,” kata Habib.

Hotman Sagala adalah Kepala BIN daerah (KABINDA) di Kalimantan Selatan pada waktu itu. Dialah yang menjamin gagasan sekaligus permintaan Habib untuk disampaikan kepada Presiden.

Menurutnya, kehadiran negara dalam aksi tersebut juga memperlihatkan kepada seluruh rakyat Indonesia tentang kebersamaan yang erat antara pemerintah dengan rakyatnya sekaligus menjunjukkan kekuatan bangsa Indonesia di mata dunia.

Dalam acara peluncuran buku sekaligus bedah buku, Habib yang hadir sebagai pembicara utama mengatakan bahwa di negara-negara maju pemerintah selalu hadir di tengah rakyatnya.

Siapakah sang Habib?

Lahir di kota Probolinggo, Jawa Timur pada 17 Desember 1973, Sayyid Abdul Qadir Thoha Ba’aqil merupakan putra kedua dan anak laki-laki pertama dari pasangan Habib Thoha Ba’aqil dan Elok Syarifah Siti Fatimah.

“Saya lahir di era kemerdekaan, saya menikmati pendidikan, hidup, mencari makan dan berkeluarga di Indonesia ini. Alhamdulillah, hingga detik ini saya diberikan kehidupan yang baik,” kata Habib yang juga aktif di organisasi Nahdatul Ulama (NU) Kalimantan Selatan.

Kedua orang tua Habib merupakan pemilik pesantren mandiri dengan nama Pondok Pesantren Raudhatul Jannah yang cukup besar di Probolinggo dengan jumlah santri sebesar 1,500. Pesantren ini juga menjadi wadah sosial dengan menampung anak yatim piatu, terlantar dan disabilitas dari keluarga tidak mampu. Juga menampung remaja serta anak nakal yang antara lain karena penyalahgunaan narkoba. Mereka belajar tanpa dipungut biaya alias gratis. Bahkan, Habib mengirim santrinya melanjutkan pendidikan sampai Yaman, khususnya bagi santri berprestasi.

Untuk membantu keberlangsungan pesantren, Habib menjalankan berbagai bisnis mulai dari sewa truk hingga pertambangan batu bara dan mineral di Kalimantan. Habib juga memimpin majelis taklim Rukap di Malang, Jawa TImur dan majelis taklim Qolbin Salim di Banjarmasin.

Menurut Sri Wulandari, penulis Buku 212 Undercover, ide menulis buku dilakukan dalam waktu singkat yakni sejak April hingga diterbitkan pada pertengahan Juni. “Dari Habib kami belajar banyak tentang wawasan kebangsaan dan kepeduliannya pada Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI yang perlu terus digaungkan lagi demi keutuhan bangsa dan Negara,” katanya. (Carina)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *




Enter Captcha Here :