Menteri Abdul Mu’ti  Tuntaskan Program Revitalisasi 726  Satuan Pendidikan tahun 2025 di Provinsi Aceh

BIREUN, AKSI KATA. COM i — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, meresmikan hasil revitalisasi satuan pendidikan tahun 2025 di Kabupaten Bireuen, Aceh. Peresmian ini menandai selesainya pembangunan dan perbaikan sarana pendidikan pada 29 sekolah dengan total nilai bantuan sekitar Rp 36 miliar, yang diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan kenyamanan proses pembelajaran bagi peserta didik.

Peresmian itu juga sekaligus menandai tuntasnya program revitalisasi satuan pendidikan tahun 2025 di Provinsi Aceh yang menjangkau 726 satuan pendidikan dengan total anggaran sekitar Rp 688,2 miliar. Program tersebut mencakup seluruh jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD), pendidikan dasar dan menengah, hingga pendidikan nonformal.

” Dengan revitalisasi tersebut maka pemerintah dapat memastikan kegiatan belajar mengajar dapat kembali pulih dan berjalan secara optimal di wilayah yang terdampak bencana,” ujar Mendikdasmen di Kabupaten Bireuen, Aceh, Selasa (10/3).

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, program revitalisasi satuan pendidikan yang menyasar Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh berhasil membangkitkan semangat belajar para murid dan guru karena meningkatkan kenyamanan saat kegiatan belajar mengajar.

Untuk program revitalisasi satuan pendidikan tahun 2026 di Kabupaten Bireuen, tercatat 116 sekolah terdampak bencana telah menandatangani perjanjian kerja sama (PKS) dengan total nilai bantuan mencapai Rp167,4 miliar. Dari jumlah tersebut, 86 sekolah akan dikerjakan secara swakelola oleh sekolah, sementara 30 sekolah lainnya akan dilaksanakan oleh TNI AD.

“Hari ini kita akan melakukan peletakan batu pertama pembangunan di TK Negeri Muhajidin yang mendapatkan bantuan revitalisasi untuk tahun 2026. Ini merupakan realisasi dari revitalisasi tahun 2026 yang alhamdulillah sebagian sudah kita tetapkan dan sudah bisa dimulai pembangunannya,” kata Menteri Mu’ti di  Bireuen, Aceh, Selasa (10/3).

Menurut Mendikdasmen, pembangunan sarana dan prasarana pendidikan melalui revitalisasi tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik semata, tetapi juga menjadi bagian dari upaya strategis untuk menjadikan pendidikan sebagai sarana membangun generasi Indonesia yang hebat melalui pemenuhan sarana dan prasarana.

“Membangun gedung tidaklah sekadar mendirikan tembok yang tinggi, tetapi membangun fondasi yang kokoh dalam rangka membangun anak-anak Indonesia yang cerdas dan berkarakter,” tambahnya.

Dalam kesempatan tersebut, Mendikdasmen juga berpesan kepada seluruh penerima manfaat agar fasilitas yang telah dibangun dapat dimanfaatkan dan dirawat dengan baik. Ia menekankan bahwa sarana pendidikan yang dibangun melalui program revitalisasi merupakan investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa.

Salah satu penerima manfaat revitalisasi, Plt. Kepala SMP Negeri 1 Peusangan Selatan, Leni, menyampaikan bahwa program revitalisasi memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap kenyamanan dan keamanan proses pembelajaran di sekolahnya.

 Menurutnya, kondisi ruang kelas yang sebelumnya kurang layak kini telah jauh lebih baik sehingga siswa dapat belajar dengan lebih fokus dan nyaman. “Siswa dapat belajar dengan lebih fokus, mendorong motivasi dan semangat belajarnya karena ruang kelas tidak lagi bocor, plafon yang layak, pintu dan jendela yang kokoh, serta fasilitas perpustakaan dan laboratorium komputer yang lebih baik sehingga siswa betah untuk menambah ilmu pengetahuan dan teknologinya,” ungkap Leni.

Selain itu, menurutnya revitalisasi membuat guru lebih fokus dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan pengajar sehingga dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran di kelas.

Hal senada disampaikan Kepala SMA Negeri 3 Samalanga, Ira Novita, yang menyebut program revitalisasi sangat membantu sekolahnya karena fasilitas yang dibangun sesuai dengan kebutuhan sekolah. Ia mencontohkan pembangunan ruang administrasi baru yang memungkinkan laboratorium IPA dimanfaatkan secara maksimal oleh siswa.

“Dengan adanya ruang administrasi baru, siswa jadi bisa memanfaatkan laboratorium IPA dengan maksimal untuk pembelajaran, karena sebelumnya harus berbagi dengan ruang administrasi,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Peudada, Yuslina, menyampaikan bahwa revitalisasi sangat membantu memperbaiki kondisi sekolah yang sebelumnya sudah cukup lama dan membutuhkan perbaikan di berbagai bagian. Para siswa dan guru punmenilai pembangunan tersebut sangat positif karena fasilitas yang tersedia kini jauh lebih layak dan mendukung kegiatan belajar mengajar.

“Alhamdulillah sudah selesai 100 persen dan sudah mulai kita manfaatkan. Dengan adanya revitalisasi ini ada empat ruang kelas yang direhabilitasi, ruang perpustakaan, toilet, serta tiga bangunan baru yaitu toilet, UKS, dan ruang BK,” ujarnya.

Resmikan Ruang kelas Darurat

Selain revitalisasi reguler, pemerintah juga memberikan perhatian khusus pada satuan pendidikan yang terdampak bencana akhir November 2025 lalu. Sampai saat ini terdapat 3.120 usulan sekolah terdampak bencana, dengan 2.178 sekolah telah terverifikasi akan menerima bantuan revitalisasi di mana di dalamnya terdapat 63 sekolah yang perlu direlokasi, 188 sekolah rusak berat, 1.382 sekolah rusak sedang, dan sisanya rusak ringan.

Dalam layanan pendidikan pascabencana Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, meresmikan delapan Ruang Kelas Darurat (RKD)  di SMK Negeri 1 Peusangan Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh,

Di Kabupaten Bireuen terdapat 15 RKD yang tersebar di lima sekolah yaitu delapan RKD di SMK Negeri 1 Peusangan, dua RKD di SMA Negeri 1 Peusangan Siblah Krueng, dua RKD SMA Negeri 1 Peusangan, satu RKD di SMA Negeri 2 Kutablang, dan dua RKD di SMAS Terpadu Al-Furqan.

Hadirnya delapan RKD tentunya menjadi wajah baru bagi proses pembelajaran di SMK Negeri 1 Peusangan pascabencana banjir yang melanda akhir November 2025 lalu. Kepala SMK Negeri 1 Peusangan, Faisal, mengatakan bahwa kehadiran RKD membuat kegiatan belajar mengajar di sekolahnya dapat kembali berlangsung lebih nyaman, aman, dan teratur bagi murid maupun guru.

“Kami sangat bersyukur atas hadirnya delapan RKD yang memungkinkan murid kembali belajar dengan lebih fokus dan tertib. Ruang belajar yang layak menjadi faktor penting agar proses pendidikan dapat berjalan optimal dan membangkitkan semangat belajar murid,” ujar Faisal.

Berkenaan dengan respons di atas, Mendikdasmen, Abdul Mu’ti, mengatakan bahwa, pembangunan RKD merupakan bagian dari upaya pemulihan layanan pendidikan yang dilakukan Kemendikdasmen pascabencana. Meskipun sifatnya darurat, ruang kelas tersebut diharapkan dapat membuat perubahan pada proses pembelajaran dan memotivasi murid untuk terus semangat belajar.

“Semangat belajar harus tetap terjaga dan tertanam kepada para peserta didik. Untuk itu, hadirnya delapan RKD ini menjadi wujud nyata upaya kami untuk mempercepat proses pemulihan layanan pendidikan dan membangkitkan semangat belajar pascamusibah yang melanda di Kabupaten Bireuen Aceh,” ungkap Mendikdasmen, Abdul Mu’ti, di Kabupaten Bireuen, Selasa (10/3).