JAKARTA, AKSIKATA.COM – Di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Bantul, Yogyakarta berdiri sebuah museum yang menjadi saksi perjalanan hidup Presiden kedua Republik Indonesia, Jenderal Besar H. M. Soeharto. Museum ini bukan sekadar bangunan penyimpan memorabilia, melainkan ruang refleksi sejarah yang menghubungkan generasi masa kini dengan sosok yang pernah memimpin bangsa selama lebih dari tiga dekade.
Museum Jenderal Soeharto diresmikan pada 8 Juni 2013, bertepatan dengan peringatan ulang tahun ke-92 sang presiden. Memorial Jenderal Besar HM Soeharto diresmikan oleh Probosutedjo dan Siti Hardijanti Rukmana yang tak lain adalah adik dan putri pertama Soeharto. Tempatnya cukup luas, dibangun di atas lahan seluas 3.620 meter.

Lokasinya memiliki makna mendalam: di tanah kelahiran Soeharto sendiri, Kemusuk, yang kini menjadi destinasi edukasi sejarah bagi masyarakat luas. Dengan luas sekitar 3.620 meter persegi, museum ini terdiri atas tiga bangunan utama: pendopo, ruang diorama, dan sebuah masjid kecil. Bangunannya terdiri dari beberapa bagian, terdapat pendopo utama, ruang diorama, masjid, Gedung Atmosudiro, Rumah Notosudiro, dan petilasan tempat kelahirannya.
Saat memasuki area museum, pengunjung langsung disambut oleh patung perunggu Soeharto setinggi tiga meter, karya seniman Edhi Sunarso. Patung itu seakan menjadi simbol kehadiran sang tokoh di tengah masyarakat, meski ia telah tiada. Di dalam ruang diorama, perjalanan hidup Soeharto dituturkan melalui foto, arsip, dan benda-benda pribadi yang merekam jejaknya sejak masa kecil hingga menjabat sebagai Presiden RI.

Museum ini tidak hanya menyajikan kisah seorang pemimpin, tetapi juga nilai-nilai patriotisme, kepemimpinan, dan pembangunan bangsa yang pernah ia gaungkan. Bagi generasi muda, tempat ini menjadi ruang belajar sekaligus refleksi tentang sejarah Indonesia, bagaimana seorang anak desa dari Kemusuk mampu menapaki jalan panjang hingga menjadi pemimpin negara.
Dengan atmosfer yang tenang dan nuansa pedesaan yang masih terasa, Museum Jenderal Soeharto menghadirkan pengalaman yang berbeda dari museum-museum lain di Yogyakarta. Ia bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang perenungan tentang perjalanan bangsa, yang dimulai dari langkah seorang anak desa menuju panggung sejarah nasional.



