JAKARTA, AKSIKATA.COM – Kasus Jeffrey Epstein adalah salah satu skandal kriminal paling kontroversial di Amerika Serikat, melibatkan perdagangan seks anak di bawah umur, jaringan elit global, dan berakhir dengan kematian Epstein di penjara pada 2019. Hingga kini, jutaan dokumen investigasi baru terus dirilis, membuat kasus ini tetap menjadi sorotan dunia.
Jeffrey Edward Epstein lahir pada 1953 di Brooklyn, New York. Ia memulai karier sebagai guru, lalu bekerja di bank investasi Bear Stearns sebelum mendirikan perusahaan finansial J. Epstein & Co. Perusahaan ini hanya menerima klien dengan aset di atas 1 miliar dolar AS. Dari sini, Epstein membangun jaringan luas dengan politisi, bangsawan, ilmuwan, dan selebritas dunia.
Di balik citra sebagai filantropis, Epstein menjalankan operasi perdagangan seks anak di bawah umur. Ia memiliki properti mewah di Manhattan, Palm Beach, New Mexico, dan sebuah pulau pribadi di U.S. Virgin Islands bernama Little St. James, yang kemudian dijuluki “Pulau Pemerkosaan” oleh media.
Epstein pertama kali ditangkap pada 2005 setelah seorang gadis berusia 14 tahun melapor kepada polisi di Palm Beach. Pada 2008, ia hanya dijatuhi hukuman 13 bulan penjara karena “soliciting prostitution” dari anak di bawah umur, sebuah vonis yang dianggap terlalu ringan. Kesepakatan hukum ini dikenal sebagai “sweetheart deal”, dan memicu kritik luas karena dianggap melindungi Epstein dari dakwaan lebih berat.
Pada Juli 2019, Epstein kembali ditangkap oleh FBI atas tuduhan perdagangan seks anak di bawah umur. Ia ditahan di Metropolitan Correctional Center, Manhattan, menunggu persidangan.
Pada 10 Agustus 2019, Epstein ditemukan tewas di selnya. Pihak berwenang menyatakan ia bunuh diri dengan cara gantung diri. Namun, kematiannya memicu teori konspirasi global karena banyak pihak meragukan pengawasan penjara yang longgar dan mengingat Epstein memiliki koneksi dengan tokoh-tokoh berpengaruh.
Peran Ghislaine Maxwell
Ghislaine Maxwell, sosialita asal Inggris sekaligus orang dekat Epstein, ditangkap pada 2020. Ia didakwa membantu Epstein merekrut dan memanipulasi gadis-gadis muda. Pada 2021, Maxwell dinyatakan bersalah atas beberapa dakwaan perdagangan seks anak dan dijatuhi hukuman 20 tahun penjara.
Kasus ini kembali mencuat pada Desember 2025 ketika Kongres AS meloloskan Epstein Transparency Act (EFTA), yang mewajibkan Departemen Kehakiman merilis seluruh dokumen investigasi. Pada Januari 2026, lebih dari 3,5 juta halaman dokumen, 180.000 gambar, dan 2.000 video dirilis ke publik. Dokumen ini mengungkap detail baru tentang jaringan Epstein, termasuk nama-nama tokoh elit dunia yang diduga terlibat atau memiliki hubungan dengannya.
Dampak dan Kontroversi
– Kepercayaan publik terhadap sistem hukum AS terguncang karena kesepakatan hukum 2008 yang dianggap melindungi Epstein.
– Nama-nama besar dari dunia politik, bisnis, dan hiburan disebut dalam dokumen, meski keterlibatan mereka masih diperdebatkan.
– Isu perlindungan anak dan perdagangan manusia mendapat sorotan global, mendorong reformasi hukum di AS.
– Teori konspirasi tentang kematian Epstein tetap hidup, sebagian besar karena pengawasan penjara yang dianggap lalai.
Kasus Jeffrey Epstein bukan hanya tentang seorang pemodal kaya yang melakukan kejahatan seksual, tetapi juga tentang bagaimana kekuasaan, uang, dan jaringan elit dapat memengaruhi jalannya hukum.



