Farida Denura: “Saya Berkarya Maka Saya Ada

JAKARTA, AKSIKATA.COM – Di balik layar dunia media Indonesia, nama Farida Denura mungkin tidak selalu muncul di panggung utama, namun kiprahnya telah membentuk wajah jurnalistik dan komunikasi publik selama lebih dari tiga dekade. Ia adalah pendiri Arahkita Media Network, sebuah jaringan media yang fokus pada pariwisata, budaya, dan gaya hidup, sekaligus jurnalis senior yang tetap aktif menulis dan membangun ekosistem media digital.

Perjalanan Farida tidak dimulai dari ruang redaksi. Awalnya ia bekerja sebagai sekretaris administrasi di sebuah perusahaan farmasi. Namun, panggilan hati membawanya ke dunia tulis-menulis. Dari jurnalis lepas, ia kemudian menapaki karier panjang di media nasional, hingga akhirnya mendirikan media sendiri. Filosofi hidupnya sederhana namun kuat: “Saya Berkarya Maka Saya Ada.” Baginya, eksistensi seseorang ditentukan oleh kontribusi nyata yang diberikan kepada masyarakat.

Sebagai jurnalis, Farida dikenal tekun dan konsisten. Ia menulis untuk berbagai platform, dari media cetak hingga digital. Di UTA Bicara, ia kerap mengangkat isu-isu sosial, politik, pendidikan, hingga teknologi. Artikelnya tidak hanya informatif, tetapi juga reflektif, mengajak pembaca berpikir lebih dalam tentang arah bangsa dan tantangan global.

Di sisi lain, Farida juga aktif di media sosial. Akun TikTok-nya, @faridadenura, memperlihatkan sisi humanis dirinya. Ia membagikan konten seputar ibadah, budaya lokal, hingga destinasi wisata. Dengan gaya yang sederhana dan rendah hati, ia berhasil menjangkau audiens yang lebih luas, termasuk generasi muda yang haus akan inspirasi.

Kiprah Farida di dunia media bukan hanya soal menulis. Ia juga berperan sebagai konsultan, membimbing media baru agar mampu bertahan di era digital. Melalui Arahkita Media Network, ia berusaha memperkenalkan potensi pariwisata Indonesia dengan pendekatan naratif yang kuat dan visual yang menarik. Baginya, media bukan sekadar bisnis, melainkan sarana untuk membangun identitas bangsa.

Rekan-rekan sejawat sering menyebut Farida sebagai sosok yang humanis dan rendah hati. Ia tidak segan berbagi pengalaman, membuka ruang diskusi, dan mendorong kolaborasi lintas generasi. Filosofinya tentang komunikasi sederhana: efektif, jujur, dan membangun.

Kini, di usianya yang matang, Farida tetap produktif. Ia menulis, berkonsultasi, dan terus berkarya. Baginya, berhenti berarti hilang. “Selama saya bisa menulis, saya akan terus berkarya. Karena di situlah saya ada,” ujarnya dalam sebuah wawancara.

Kisah Farida Denura adalah cermin perjalanan seorang perempuan yang memilih jalan jurnalistik sebagai panggilan hidup. Dari sekretaris hingga pendiri media, dari jurnalis lepas hingga konsultan, ia membuktikan bahwa konsistensi dan semangat berkarya mampu menembus batas zaman.