Oleh Anindita Fardien )*
JAKARTA, AKSIKATA.COM – Digitalisasi telah membuka peluang besar bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk bertahan dan berkembang. Media sosial, marketplace, dan aplikasi pesan instan memungkinkan pelaku UMKM menjangkau konsumen tanpa harus memiliki modal besar. Namun, di tengah kemudahan tersebut, komunikasi bisnis UMKM di era digital tidak lagi sekadar persoalan promosi, melainkan juga menyangkut makna, etika, dan cara membangun relasi dengan publik.
Dalam perspektif filsafat ilmu komunikasi, komunikasi dipahami sebagai proses pembentukan realitas sosial. Bagi UMKM, realitas tentang kualitas produk, kepercayaan konsumen, dan citra usaha dibangun melalui pesan-pesan digital yang disebarkan secara konsisten. Konten promosi, caption media sosial, hingga cara merespons komentar konsumen berperan penting dalam membentuk makna tentang sebuah usaha.
Artinya, komunikasi bisnis UMKM tidak hanya merepresentasikan realitas, tetapi juga menciptakannya.
Praktik komunikasi bisnis digital UMKM sering kali dipengaruhi oleh logika algoritma. Konten yang dianggap menarik, emosional, dan cepat viral lebih diutamakan oleh platform digital. Kondisi ini mendorong pelaku UMKM untuk menyesuaikan pesan mereka agar sesuai dengan selera algoritma, meskipun terkadang mengorbankan kejujuran informasi. Dari sudut pandang filsafat ilmu, situasi ini berkaitan dengan epistemologi komunikasi, yaitu bagaimana pengetahuan tentang produk dan bisnis dikonstruksi serta dianggap benar oleh publik.
Teori Konstruksi Sosial atas Realitas dari Peter L. Berger dan Thomas Luckmann dapat membantu memahami fenomena ini. Teori tersebut menjelaskan bahwa realitas sosial terbentuk melalui proses interaksi dan komunikasi yang berlangsung secara terus-menerus. Dalam konteks UMKM digital, realitas tentang “produk laris”, “usaha terpercaya”, atau “brand kekinian” dibangun melalui narasi digital yang berulang di media sosial. Ketika narasi tersebut tidak diimbangi dengan transparansi, realitas yang terbentuk berpotensi menyesatkan konsumen.
Selain itu, komunikasi bisnis UMKM juga berkaitan dengan Teori Tindakan Komunikatif dari Jürgen Habermas. Teori ini menekankan pentingnya komunikasi yang berorientasi pada pemahaman bersama, bukan semata-mata pada keberhasilan instrumental. Dalam praktik UMKM, komunikasi yang dialogis—seperti keterbukaan terhadap kritik konsumen, kejujuran dalam promosi, dan respons yang manusiawi—dapat membangun kepercayaan jangka panjang. Nilai ini sering kali terabaikan ketika komunikasi hanya difokuskan pada penjualan cepat.
Dimensi aksiologis atau nilai menjadi aspek penting dalam komunikasi bisnis UMKM digital. Etika komunikasi tidak seharusnya dipandang sebagai penghambat kreativitas, melainkan sebagai fondasi keberlanjutan usaha. Kepercayaan konsumen merupakan aset utama UMKM, dan kepercayaan tersebut dibangun melalui komunikasi yang jujur dan bertanggung jawab. Filsafat ilmu komunikasi mengingatkan bahwa setiap praktik komunikasi selalu membawa nilai dan konsekuensi sosial.
Pada akhirnya, digitalisasi memberi peluang besar bagi UMKM untuk berkembang, tetapi juga menghadirkan tantangan filosofis dalam praktik komunikasi bisnis. Keberhasilan UMKM di era digital tidak hanya ditentukan oleh seberapa viral kontennya, melainkan oleh sejauh mana komunikasi yang dibangun memiliki makna, etika, dan orientasi kemanusiaan. Di sinilah filsafat ilmu komunikasi berperan sebagai refleksi kritis agar komunikasi bisnis UMKM tidak kehilangan ruhnya.
*) *) mahasiswa S2 Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Jakarta



