Oleh Anindita Fardien )*
Menjadi ibu di usia 30 tahun ke atas sering kali menghadirkan fase kehidupan yang penuh perubahan. Tanggung jawab bertambah, peran semakin kompleks, dan waktu untuk diri sendiri menjadi sesuatu yang langka. Di tengah rutinitas mengurus anak, pasangan, dan pekerjaan, banyak ibu perlahan menyadari bahwa mereka juga membutuhkan ruang untuk didengar dan dipahami.
Pada titik inilah persahabatan memiliki makna yang berbeda. Bukan lagi sekadar teman berbagi tawa, tetapi menjadi ruang berbagi emosi, kelelahan, dan pengalaman hidup. Persahabatan menjadi tempat aman bagi ibu untuk mengekspresikan diri tanpa tuntutan dan penilaian.
Dalam teori komunikasi interpersonal, hubungan yang dekat dibangun melalui interaksi langsung yang melibatkan emosi, empati, dan kepercayaan. Joseph A. DeVito menjelaskan bahwa komunikasi interpersonal adalah proses pengiriman dan penerimaan pesan antara individu yang memiliki hubungan personal dan memungkinkan adanya umpan balik secara langsung.
Persahabatan antar ibu usia dewasa termasuk dalam bentuk komunikasi interpersonal yang kuat karena berlangsung secara dua arah dan sarat makna emosional.Salah satu unsur penting dalam komunikasi interpersonal adalah keterikatan emosional.
Keterikatan ini tidak muncul secara instan, melainkan terbentuk melalui pengalaman bersama dan kedekatan yang terjaga dalam waktu lama. Bagi ibu-ibu yang telah bersahabat sejak masa muda, ikatan emosional ini menjadi fondasi yang menjaga hubungan tetap bertahan meskipun jarang bertemu.
Keterikatan emosional membuat sahabat mampu memahami satu sama lain bahkan tanpa banyak kata. Dalam banyak kasus, sahabat tidak perlu memberi solusi atas setiap keluhan. Kehadiran, perhatian, dan empati sering kali sudah cukup untuk memberikan rasa lega dan aman secara emosional.
Persahabatan yang erat juga tidak dapat dilepaskan dari keterbukaan diri. Dalam teori self-disclosure yang dikemukakan oleh Sidney Jourard, keterbukaan diri dipahami sebagai kesediaan seseorang untuk mengungkapkan informasi pribadi, perasaan, dan pengalaman hidup kepada orang lain. Jourard menekankan bahwa hubungan yang sehat dan dekat tumbuh dari keterbukaan yang dilakukan secara jujur dan bertahap.
Pada ibu usia 30 tahun ke atas, keterbukaan diri dilakukan dengan lebih selektif. Mereka tidak lagi membuka semua hal kepada banyak orang, melainkan memilih sahabat yang benar-benar dipercaya. Keterbukaan ini mencakup cerita tentang kelelahan mengasuh anak, konflik rumah tangga, perasaan gagal, hingga ketakutan yang jarang diungkapkan di ruang publik.
Ketika keterbukaan diri diterima dengan empati dan tanpa penghakiman, hubungan persahabatan menjadi semakin kuat. Hal ini sejalan dengan pandangan Jourard bahwa keterbukaan yang diterima secara positif akan memperkuat rasa percaya dan kedekatan emosional dalam hubungan interpersonal.
Komunikasi interpersonal dalam persahabatan ibu dewasa juga ditandai oleh kemampuan menjaga batasan. Tidak ada tuntutan untuk selalu hadir atau selalu merespons dengan cepat. Dalam komunikasi yang matang, saling memahami kondisi masing-masing justru menjadi bentuk kepedulian yang nyata.
Perubahan pola komunikasi ini sangat terasa pada persahabatan yang dimulai sejak bangku kuliah. Pada masa itu, komunikasi berlangsung intens, spontan, dan penuh waktu luang. Pertemuan rutin, obrolan panjang, dan cerita ringan menjadi bagian dari keseharian.
Namun, setelah memasuki fase pernikahan dan menjadi ibu, pola komunikasi mengalami pergeseran. Menurut teori pola komunikasi, hubungan interpersonal bersifat dinamis dan selalu menyesuaikan dengan konteks kehidupan individu. Komunikasi tidak lagi diukur dari frekuensi, melainkan dari kualitas dan makna pesan yang disampaikan.
Everett M. Rogers menyatakan bahwa pola komunikasi terbentuk dari kebiasaan interaksi yang berulang dan dipengaruhi oleh situasi sosial. Dalam konteks ibu-ibu yang bersahabat, komunikasi yang sebelumnya intens secara tatap muka berubah menjadi komunikasi singkat melalui pesan digital, namun tetap mengandung dukungan emosional.
Dalam teori komunikasi interpersonal juga dijelaskan bahwa kualitas hubungan tidak ditentukan oleh seberapa sering individu berkomunikasi, melainkan oleh kedalaman pesan dan rasa saling memahami. Satu pesan singkat yang penuh empati sering kali lebih bermakna dibanding percakapan panjang tanpa keterhubungan emosional.
Persahabatan lama justru sering kali menjadi lebih dalam setelah memasuki fase menjadi ibu. Tidak ada lagi tuntutan untuk selalu hadir secara fisik. Keheningan tidak terasa canggung, karena rasa saling memahami telah terbangun kuat sejak lama.
Bagi ibu usia 30 tahun ke atas, persahabatan menjadi ruang aman untuk menjadi manusia biasa. Di hadapan sahabat, seorang ibu tidak harus selalu terlihat kuat, sabar, dan sempurna. Ia boleh mengeluh, menangis, dan mengakui bahwa dirinya sedang lelah.
Dalam komunikasi interpersonal yang sehat, individu merasa diterima apa adanya. Persahabatan memberikan ruang tersebut di tengah tuntutan sosial yang sering menempatkan ibu sebagai sosok yang harus selalu mampu dan tabah.
Persahabatan memang tidak menggantikan peran pasangan atau keluarga, tetapi melengkapinya sebagai sistem dukungan emosional. Ia membantu ibu menjaga keseimbangan emosi dan mempertahankan identitas dirinya sebagai individu. Pada akhirnya, persahabatan bagi ibu usia 30 tahun ke atas bukan sekadar hubungan sosial, melainkan kebutuhan emosional.
Melalui keterikatan emosional, keterbukaan diri, dan pola komunikasi interpersonal yang adaptif, persahabatan menjadi ruang berbagi yang menenangkan dan menguatkan. Meski waktu dan peran berubah, sahabat tetap menjadi tempat pulang bagi cerita-cerita yang tidak bisa dibagikan ke semua orang.
*) mahasiswa S2 ilmu komunikasi universitas Muhammadiyah Jakarta


