JAKARTA, AKSIKATA.COM – Fenomena Peter Pan Syndrome kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah pakar psikologi menilai bahwa gejala ini semakin terlihat di tengah masyarakat modern. Istilah yang diambil dari tokoh fiksi Peter Pan ini merujuk pada orang dewasa yang enggan tumbuh dewasa, menolak tanggung jawab, dan tetap bersikap kekanak-kanakan.
Sindrom ini lebih banyak terjadi pada pria daripada wanita, serta bisa memengaruhi hubungan sosial dan profesionalnya karena sering melepas tanggung jawab. Walaupun bukan diagnosis medis resmi, istilah ini digunakan secara luas untuk menggambarkan perilaku yang menghambat kedewasaan emosional dan sosial.
Dalam penjelasan yang dikutip dari Halodoc, disebutkan bahwa “Sindrom Peter Pan bukanlah diagnosis medis formal, melainkan sebuah konsep psikologis yang menggambarkan orang dewasa yang menunjukkan ciri-ciri kekanak-kanakan.”
Fenomena ini biasanya muncul pada individu yang kesulitan menerima tanggung jawab, enggan berkomitmen dalam hubungan jangka panjang, serta cenderung bergantung secara emosional maupun finansial pada orang lain. Di sisi lain, mereka lebih mementingkan kesenangan pribadi dibandingkan kewajiban sosial yang seharusnya dijalani.
Para ahli menilai bahwa pola asuh yang terlalu memanjakan, trauma masa kecil, atau ketakutan menghadapi kegagalan dapat menjadi faktor pemicu munculnya kecenderungan ini. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu yang bersangkutan, tetapi juga oleh lingkungan sekitar. Karier yang terhambat, hubungan sosial yang rapuh, hingga konflik dalam keluarga menjadi konsekuensi nyata dari ketidakmampuan seseorang untuk beradaptasi dengan tuntutan kehidupan dewasa.
Fenomena ini semakin relevan di era modern ketika tekanan sosial dan ekonomi membuat sebagian orang memilih untuk menghindar daripada menghadapi kenyataan. Di tengah budaya populer yang sering mengagungkan kebebasan tanpa batas, sikap enggan dewasa justru dianggap sebagai bentuk pelarian.
Namun, para pakar menegaskan bahwa sikap tersebut tidak dapat bertahan lama. Ketika tanggung jawab semakin menumpuk, individu dengan kecenderungan Peter Pan Syndrome akan menghadapi kesulitan besar dalam menata hidupnya.
Upaya penanganan biasanya dilakukan melalui konseling psikologis, dukungan keluarga, serta edukasi publik mengenai pentingnya kedewasaan emosional. Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat diharapkan dapat membantu individu yang mengalami kecenderungan ini untuk lebih bertanggung jawab dan mandiri. Kampanye edukasi kesehatan mental pun digencarkan agar masyarakat tidak hanya memahami fenomena ini, tetapi juga mampu memberikan dukungan yang konstruktif.Yuk
Fenomena Peter Pan Syndrome menjadi pengingat bahwa kedewasaan bukan sekadar soal usia, melainkan kesiapan mental dan emosional untuk menghadapi realitas hidup. Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, sikap bertanggung jawab dan kemampuan beradaptasi menjadi kunci agar seseorang dapat menjalani kehidupan dewasa dengan sehat dan produktif.



