JAKARTA, AKSI KATA. COM — Hujan deras yang turun tanpa jeda, tanah yang melemah, dan kontur perbukitan yang tak lagi stabil membuat sejumlah wilayah di Sumatera menghadapi hari-hari yang berat. Akses jalan terhambat, jembatan putus, jaringan komunikasi hilang-timbul, sementara masyarakat di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat berupaya menjaga aktivitas dan keselamatan keluarga mereka. Di tengah situasi yang bergerak cepat itu, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) tetap berdiri sebagai salah satu simpul penting yang menjaga mobilitas dan mengalirkan bantuan di wilayah terdampak.
Direktur Operasional dan Transformasi ASDP, Rio Lasse, menegaskan, perusahaan mengaktifkan seluruh protokol darurat untuk memastikan layanan tetap berjalan dengan fokus utama pada keselamatan. “ASDP hadir bukan hanya sebagai operator penyeberangan, tetapi juga sebagai bagian dari upaya pemulihan masyarakat. Kami menjaga agar layanan tetap tersedia, sekaligus memastikan karyawan dan keluarga di daerah terdampak mendapat perlindungan,” ujar Rio di Jakarta, Sabtu,(29/11).
Sejak cuaca ekstrem melanda, tim ASDP di berbagai cabang di Sumatera bergerak simultan. Mereka mendokumentasikan kondisi akses, menyiagakan armada, memantau cuaca, dan berkoordinasi intens dengan pemerintah setempat. Upaya ini dilakukan demi menjaga optimisme masyarakat bahwa gangguan tidak akan memutus sepenuhnya konektivitas antardaerah.
Jalur Laut Nadi Logistik
Di Sumatera Utara, terputusnya akses jalan menuju pelabuhan menjadi gambaran nyata betapa beratnya situasi. Jembatan yang rusak, tanah longsor, hingga jalan yang runtuh menutup akses sepanjang 7–10 kilometer menuju Sibolga. Sekitar 20 titik lain masih dipenuhi material tanah dan batang kayu besar yang terbawa arus banjir.
Berbeda dengan wilayah pesisir, Danau Toba justru menjadi titik stabil dalam badai. Penyeberangan Ajibata, Ambarita, dan Balige tetap berjalan normal. Di Aceh, gangguan listrik dan jaringan membuat tiket digital tak dapat diakses. ASDP segera kembali membuka tiket manual agar masyarakat tetap bisa menyeberang tanpa hambatan teknologi.
Sementara di Singkil, longsor di Rimo memutus jalan sehingga kapal menjadi satu-satunya moda untuk evakuasi. KMP Teluk Sinabang dan KMP Aceh Hebat 3 kini disiagakan penuh untuk mengangkut warga, karyawan, dan bantuan menuju Pulau Banyak dan Pulau Sinabang.
Untuk memperkuat komunikasi, kantor pusat ASDP mengirimkan telepon satelit ke empat cabang terdampak: Danau Toba, Singkil, Banda Aceh, dan Padang. Perangkat ini menjadi tulang punggung koordinasi ketika jaringan seluler nyaris hilang.
Keselamatan Prioritas Utama
Sementara itu, Kementerian Perhubungan turut mengawal dinamika situasi di lapangan. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyampaikan belasungkawa atas bencana yang terjadi dan menegaskan bahwa seluruh jajarannya siaga penuh. “Seluruh lini transportasi bergerak cepat membantu penanganan bencana ini. Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama,” ujar Menhub Dudy.
Kemenhub memastikan sejumlah pelabuhan penyeberangan tetap beroperasi dengan penyesuaian, termasuk penguatan pemantauan cuaca dan pengaturan arus kendaraan evakuasi. Di Aceh dan Sumatera Utara, terminal dan pelabuhan tetap dibuka dengan dukungan genset dan komunikasi satelit, sementara tim BPTD menjaga agar arus logistik—termasuk sembako dan BBM—dapat bergerak tanpa hambatan. Koordinasi dengan BNPB, Basarnas, pemerintah daerah, dan operator transportasi terus diperkuat untuk mempercepat pemulihan jaringan transportasi.
Meski situasi belum sepenuhnya pulih, tanda-tanda pemulihan sudah terlihat. Warga Sibolga mulai membersihkan rumah mereka yang sebelumnya terendam banjir. Air mulai surut di banyak wilayah, dan konektivitas komunikasi perlahan kembali. Di antara jalan yang retak dan tanah yang belum sepenuhnya stabil, ada harapan yang tumbuh dari kerja sama antara masyarakat, pemerintah, dan operator layanan publik.
ASDP memastikan layanan penyeberangan tetap menjadi jembatan kehidupan: menghubungkan, mengirim bantuan, dan menjaga mobilitas masyarakat. Dengan koordinasi yang solid dan komitmen pada keselamatan, pemulihan Sumatera diyakini dapat berlangsung lebih cepat, selangkah demi selangkah, bersama.


